Sabtu, 19 Juli 2014

[CERPEN] Girl in My Heart #Pt2

Girl in My Heart #Pt2


Diam bukanlah suatu hal yang menyenangkan, bukan hal yang mudah, bukan juga sesuatu yang buat orang betah menjalaninya. Aku merasa berada di sebuah kotak dan tak bisa berpindah ke kotak yang lain yang lebih mungkin indah dan menyenangkan. Stuck ditempat. Aku terlalu terpaku pada seseorang, seseorang ya selalu ada dalam benak dan pikiranku. Memang butuh waktu yang tepat untuk menunjukan semuanya. Tapi waktu yang tepat itu aku tak tau kapan tibanya. Bukankah suatu hal yang menyebalkan. Sudah 2 jam aku duduk dibawah pondok kecil ini, dipinggir telaga. Hal yang sudah menjadi rutinitasku selama beberapa minggu terakhir sebagai pelepas penat sepulang sekolah. Hembusan angin sore menembus kulitku. Riakan lembut air telaga beserta siluet jingga langit senja seolah menunjukan bahwa mereka pasangan yang klop sore ini. Perlahan semua itu sirna seiring kembalinya sang surya ke tempat peraduan.
Sepulang dari kegiatan hari ini aku langsung membersihkan diri, sembahyang, makan, dan lekas tidur. Aku tak ingin menikmati malam minggu seperti yang dilakukan remaja pada umumnya. Jadwal wargame bersama anak-anak warnet pun aku tinggalkan. Aku sangat lelah hari ini.
Hari itu aku bangun pagi sekali, padahal ini kan hari minggu. Ya, karena aku mendapat sebuah sms dari Lili, gadis dalam hatiku. Ia memintaku untuk menemaninya ke toko komputer. Sebenarnya aku sangat malas untuk bepergian hari ini. Tapi rasanya tidak etis juga menolak ajakan seseorang yang sudah sering membantuku.
Aku segera mempersiapkan diri untuk bertemu bidadari pagi ini. Aku senang akan bertemu dirinya, aku juga tidak senang jika harus bepergian pada saat hari libur, karena aku bukan tipe orang yang suka kelayapan.
Aku mengayuh langkahku untuk menjemput kejutan dari Tuhan. Hidup ini adalah cerita, hidup ini kisah, kita sebagai tokohnya. Sedangkan Tuhan sebagai sutradara pengatur adegan, apapun yang dilakukan sutradara harus kujalani dan rangkaian kisah yang tak bisa kubantah.
Aku akan menjemput Lili dengan menggunakan sepeda motorku, tadinya dia tak mau

kujemput namun setelah beberapa kali kubujuk ia pun luluh. Kugeber motorku menuju rumahnya. Aku bagaikan kelinci yang berloncat riang yang baru mengenal dunia, memupuk harapan, cinta, dan mimpi di kaki langit.
Aku sudah sampai dirumahnya, kupencet bel beberapa kali dari luar pintu gerbang, lalu muncul bidadari cantik yang kumaksud itu. Ayolah, dia bukan bidadari mengapa aku memanggilnya seperti itu. Ahh tak apalah toh hanya aku sendiri yang tau.

                “Hay. Selamat Pagi.” Kudapati sapaan dan senyuman manis dipagi ini. Indahnya.
                “Pagi juga.”
                “Kamu jemput aku kepagian tau, sekarang masih jam 7 aku kan janjinya jam 8.”
                “Masa? Beneran aku gak tau. Tapi gak papalah. Hehehe.” Aku menjemputnya sejam lebih awal? Benar benar antusias, padahal sebelumnya aku merasa tak bersemangat.
                “Kamu udah sarapan belom ngga?”
                “Belom nih.”
                “Yaudah yuk berangkat, ntar sekalian cari sarapan. Santai aja, aku traktir kok. Hihi.”

Kami bergegas menuju tempat yang dijanjikan. Kami telah samapi di sebuah Departement Store, Lili langsung mengajakku kesebuah food court untuk sarapan. Sebuah burger isi omelet dirasa cukup untuk mengganjal perut. Selesai makan Lili mengajakku ke sebuah stand computer. Rencananya ia ingin membeli Processor baru dikarenakan Processor lamanya overheat. Sungguh perempuan idaman, dia sejalan denganku yang menyukai hal hal berbau computer. Ia memilih AMD Vishera FX-8350. Wow, benar benar punya selera tinggi perempuan ini. Sungguh membuatku ngiler. Ia sangat terampil dalam memilih peripheral untuk computernya, terbukti saat ia membeli CPU Cooler untuk mendampingi Processornya itu karena memiliki sedikit masalah mengenai suhunya. Lalu ia segera kekasir untuk menebus barang barangnya.

                “Gimana ngga soal ini?” Ia menunjukan barang yang baru dibelinya.
                “Bagus kok, cocok banget. Aku aja sampe ngiler liat kamu beli itu.”
                “Hahahha. Mana sini ilernya biar aku lap. Hihihi.”
                “Gak gitu juga kali, etapi aku baru tau kalo kamu suka computer.”
                “Emang cewe gak boleh suka gituh.” Sambil menjulurkan lidahnya.
                “Enggaa, aku justru suka jadi kita bisa sharing.”
                “Hahahaha, kita sejalan. Toss dulu dong.”

Hari ini kuhabiskan mengelilingi Dept. Store ini bersama Lili. Sungguh hal yang menyenagkan bisa menemaninya. Sebelum pulang, dia mengajaku ke Starbucks untuk sekedar minum dan melepas lelah.
Apa yang bisa kuberikan hari ini kepadanya, aku merasa tidak enak. Sepulang dari sini aku berencana untuk mengajaknya ke telaga untuk sekedar menikmati mentari sore.


                “Dy, ntar ikut aku yuk.”
                “Kemana?”
                “Rahasia dong. Hehehe.”
                “Dihh kok gitu, akunya kan jadi kepo.”
                “Ahh udah nanti ikut aja. Nanti pasti kamu bakal suka.”

Singkat cerita kami telah sampai di telaga tepat dimana aku biasa menikmati sore. Aku mengajaknya duduk di pondok kecil di pinggir telaga.


                “Tempatnya bagus banget ngga, belom pernah kesini sebelomnya.”
                “Kan, kamu pasti bakal suka.”


Aku memberikan sekuntum binga mawar putih yang kubeli di Dept. Store tadi tanpa sepengetahuan Lili.


                “Dy, aku ada sesuatu buat kamu.” Ia memandangku.
                “Apaan.”
                “……..” Hening sejenak. Ia masih memandangiku namun kali ini tatapannya lebih tajam.
                “Ini.” Aku menyodorkannya bunga mawar putih.
                “Wiiiihhh, bagus ngga. Makasih yah.” Senyumnya menyembul dibalik bibirnya.


Hari semakin sore, langit jingga pengantar senja mulai menampakkan wujud indahnya. Burung bangau terbang memebentuk formasi V untuk kembali ke sarang. Nyanyian riak air telaga yang seakan menyapa dua insan dihapannya. Sungguh saat yang kondusif. Mengapa aku tidak menyampaikannya sekarang. Dorongan hati ini sangat keras, namun aku sangat kelu untuk mengutarakannya. Aku mencoba mengumpulkan seonggok keberanian. Bukankah waktu yang sangat tepat untuk berbicara saat ia menaruh dirinya di pundakku. Ayolah, aku tidak sedang bermimpi. Aku terlalu menunda nunda waktu yang membiarkan dirinya dimakan dinginnya angin sore. Perlambangannya sudah sangat bagus, namun diri inilah yang sangat tidak bagus. Aku bukan sedang menghadapi soal Algoritma, tapi mengapa terasa ini lebih sulit dari itu. Mungkin ia masih gadis dalam hatiku, aku percaya waktu, biarkanlah waktu yang mengantarkannya menuju hal yang lebih indah nanti. Paling tidak hati ini sedikit lebih baik saat Lili membiarkan kepalanya bersandar dipundakku dan aku merasa ada didalam hatinya saat ia mendekap bunga mawar pemberianku. Biarkanlah bunga itu menjadi saksi bisu atas perasaan ini, dia masih gadis dalam hatiku.







Information

Tittle : Girl in My Heart #Pt2
Topic : Love
Story line  : Flashback
Characterizations : I as Rangga, Lili
Viewpoint : First person
Author : @rngg186

Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

Copyright © Serangga.co

      Up ↑