Sabtu, 06 Desember 2014

[CERPEN] Jaket Ini Aku Pinjam

Jangan bilang ini cerpen malem minggu. Karena cerpen ini rilisnya hari minggu jam 00.15
Tapi bikinnya tetep malem minggu. -_- Yaudah silahkan dibaca. Kritik dan saran sangat membantu.




Jaket Ini Aku Pinjam


Kutersadar dari lamunanku. Kucoba melihat jam dinding. “Ah, setengah empat. Ayolah cepat pulang.” "Gerutuku.

Aku masih duduk terdiam di kursi paling belakang kelas ini. Mendengarkan ocehan demi ocehan. “Salah satu tipe algoritma brute force adalah bubble sort . . . . . . bla bla bla.” Guru pembibmbing menjelaskan sepenuh hati, namun anak didiknya, hanya beberapa yang peduli. 


Ini sudah hampir petang, mereka lebih memilih acuh. Sedangkan aku asyik dalam lamunanku sendiri. Memandang kaca jendela yang mulai basah dibasuh air hujan. Aku mulai khawatir, hujan telah turun, suara petir bergumul bersama angin.
Bel berbunyi, menandakan seluruh aktivitas KBM hari ini selesai.




****




Kakiku melangkah menyusuri deretan kios sambil celingukan berharap masih ada angkot yang lewat dan menyisihkan sedikit tempat duduk untuku. Hujan masih terus mengguyur disertai dengan petir. Mereka pasangan serasi sore ini. 

Kudapati perempuan yang duduk di dipan depan kios kelapa muda. Sepertinya aku mengenali wajahnya, namun aku belum pernah berkenalan dengannya walaupun kami sepantaran. Perempuan yang mengenakan tas beraksen bendera Inggris itu masih termenung, nampaknya ia sedang gelisah.

“Ehm, belom pulang.” Ucapku sekenannya.

“Mmm, ehh. Iya nih belom.” Balasnya ramah.

“Nunggu jemputan?”

“Gak di jemput.”

Mukanya terlihat pucat, keningnya berkerut, sembari tangannya memukul mukul kecil pahanya. Ia nampak sangat gelisah. Sejujurnya aku gerogi saat berbicara pada perempuan yang sedang gelisah. Bibirnya yang sebelumnya merah merekah kini menjadi keabu-abuan. Kulepas jaket yang kupakai, mungkin saja ia membutuhkan.

“Dingin ya, nih dipake.” Kusodorkan jaket ini padanya.

“Mmm, gak usah. Makasih.” Tolaknya ringan.

Kupandang dalam matanya, aku yakin ia membutuhkan pakaian yang lebih hangat.
Kuraih tangannya lalu kuberikan jaket padanya.

“Badan kamu udah gemeter, dipake aja.”

“Makasih. Rr-Rangga.” Kali ini ia tak menolak.

“Mau pulang kemana?”

“Ke Cilacap, tapi gak ada yang jemput. Rangga pulang kemana?”


****

Hmmm, kurasa ia mulai ramah atau mungkin kondisinya sudah membaik. Ahh, entahlah, aku juga sudah mulai nyaman ngobrol dengannya. Aku ingin sekali pulang bersamanya, apalagi jalan pulang nya searah. Tak apa walaupun naik angkutan umum. 

Aku merasa menerima kehangatan dari pancaran mata sayunya. Ucapan demi ucapannya membuatku semakin penasaran akan perempuan ini. Jujur, aku suka dengan gaya berbusananya. Ia terlihat fashionable dengan jilbab persegi yang membungkus kepala mungilnya, sepatu hitam model mid top dengan list putih dibawahnya berpadu dengan tas berkaksen Union Jack membuat ia terkesan layaknya anak gaul masa kini, namun tetap sopan. Perbincangan kita makin mencair ditengah hiruk pikuk kota yang kian sepi serta ditemani rinai hujan yang turun butir demi butirnya.
Hingga suatu ketika datang seorang laki laki menghampiri kami mengenakan sepeda motor yang kebanyakan orang menyebutnya “FU”.

“Ngga, aku pulang dulu ya. Udah dijemput.”

“ . . . .” Aku hanya tersenyum, bahkan aku tak menyanggupinya.

”Jaket ini aku pinjam. Temui aku minggu depan disini sepulang sekolah. See you.” Sembari 
melambaikan tangan padaku.


Mereka bergegas pergi meninggalkanku, padahal niatku untuk meminta nomor hapenya tadi sebelum ia meninggalkanku. Namu perpisahan berlalu begitu cepat. Padahal aku ingin sekali pulang bersama saat kuketahui jalan pulang kita searah, namun apa daya, keberadaan mu seperti angin hanya tersisa bayang semu nan kabur.
Ketahuilah saat pertama kumenatapmu, seperti ada sesuatu yang bergejolak dalam raga ini. Entahlah, hanya perasaan suka biasa. Paling tidak hatiku tak semendung langit sore ini.


Thanks for reading.

Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com

Copyright © Serangga.co

      Up ↑